Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.876 Imbas Outlook Negatif Moody's
![]() |
| Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym. |
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.876 pada perdagangan hari ini, Jumat (6/2/2026). Rupiah turun sebesar 34 poin atau 0,2 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.842.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan melemahnya nilai rupiah merupakan imbas lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings, yang menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.
"Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Jumat (6/4/2026).
Ia menyatakan, kalau kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun akan tergerus.
Kata Ibrahim, penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia.
"Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai 154,6 miliar dolar AS atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 156,5 miliar dolar AS," urainya.
"Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," sambung dia.
Ibrahim menyatakan, meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Di satu sisi, Ibrahim menilai melemahnya rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal, yakni para pejabat AS dan Iran yang dijadwalkan bertemu di Oman pada Jumat sore ini, di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, setelah Washington mengerahkan setidaknya dua armada angkatan laut di wilayah tersebut.
Disclaimer: Semua artikel yang ada di blog ini hanyalah contoh atau dummy untuk keperluan pembuatan dan demo template Blogger. Kontennya tidak mencerminkan informasi atau berita yang sebenarnya.

Posting Komentar