Tak Harus Sama: Merayakan Hobi dan Minat Berbeda dalam Relasi
![]() |
| Header Diajeng Pasutri Hobi Tak Sama. tirto.id/Quita |
Kesamaan minat atau hobi kerap dianggap sebagai pilar utama yang membuat hubungan menjadi langgeng, khususnya ketika akan melangkah ke jenjang pernikahan dan menjadi sepasang suami-istri.
Saat pasangan sama-sama suka traveling dan kuliner, menonton film bergenre sama, atau mempunyai hobi serupa lainnya, mereka sering diyakini akan lebih mudah nyambung dan minim konflik.
Namun, seiring berjalannya waktu dan dinamika pernikahan yang semakin kompleks, pasangan pun harus bisa menerima kenyataan lainnya yang juga penting: suami dan istri tidak harus selalu memiliki minat yang sama agar tetap mesra dan terkoneksi.
Dalam keseharian, kita pun sering melihat pasangan suami-istri yang hidup bersama mempunyai minat, hobi, atau cara menikmati waktu luang yang berbeda. Mereka tetap bisa utuh sebagai satu kesatuan.
Perbedaan minat bukanlah tanda kegagalan dalam suatu hubungan, tapi juga sebagai cerminan bahwa dua orang yang berbeda tetap bisa bertumbuh sebagai pribadi yang utuh.
Minat berbeda yang dijalankan dengan saling menghargai, justru dapat memperkaya hubungan, menghadirkan keseimbangan antara kebersamaan dan kebebasan masing-masing.
Di sinilah kemudian bisa timbul pertanyaan, sejauh mana kesamaan minat benar-benar menentukan keberhasilan relasi? Kapan perbedaan justru menjadi kekuatannya?
Keyakinan bahwa relasi akan lebih berhasil jika dibangun di atas minat yang sama ternyata sangat kuat dalam budaya kencan modern.
Dilansir Refinery 29, penelitian Healthy Framework menunjukkan bahwa sekitar 61 persen pengguna aplikasi kencan secara aktif mencari pasangan dengan minat yang sama.
Studi lain dari Pew Research Center, AS, bahkan menemukan bahwa 64 persen pasangan menikah percaya kesamaan minat adalah faktor yang sangat penting bagi keberhasilan pernikahan.
Hal tersebut bahkan dianggap lebih penting dibandingkan seks yang memuaskan atau kesamaan pandangan politik.
Tak heran jika banyak orang merasa bahwa “klik” berarti “sama”.
Aplikasi kencan pun memperkuat anggapan ini dengan sistem pencocokan yang semakin sempit: musik yang sama, hobi yang sama, gaya hidup yang sama. Dalam konteks ini, relasi yang baik adalah relasi yang seolah-olah tanpa perbedaan.
"Orang sering mengacaukan kompatibilitas dengan kesamaan," kata psikoterapis hubungan Charisse Cooke.
Akibatnya, kita membayangkan bahwa pasangan yang “mirip” akan melindungi kita dari kesalahpahaman dan pertengkaran. Padahal, menghindari perbedaan sama sekali bukan jaminan hubungan yang lebih sehat.
Pakar psikologi hubungan Carmelia Ray bahkan mengingatkan bahwa memiliki terlalu banyak kesamaan bisa sama menantangnya dengan tidak memiliki kesamaan sama sekali.
"Saat pertama kali berkencan dengan seseorang, akan sangat menyenangkan untuk mendapati bahwa kalian memiliki banyak kesamaan," katanya.
Namun, seiring waktu, kondisi “selalu sama” berisiko membuat relasi kehilangan ruang gerak. Perlahan, rasanya bisa jadi membosankan.
Disclaimer: Semua artikel yang ada di blog ini hanyalah contoh atau dummy untuk keperluan pembuatan dan demo template Blogger. Kontennya tidak mencerminkan informasi atau berita yang sebenarnya.

Posting Komentar